Bersabarlah untuk menunggu sesuatu yang kau inginkan. Jangan pernah menyerah selagi kau masih bisa memperjuangkan. Tunggulah waktu yang kan datang bersama takdir, karena semua telah dipersiapkan. Ikuti alur kehidupan, mau bagaimana akhirnya, setidaknya kau sudah berusaha sekuat yang kau bisa. Ingat! Tuhan tidak tidur. Tuhan tau mana yang baik dan mana yang buruk untukmu. Jangan pernah menyerah untuk mempertahankan apa yang kau inginkan, karena tidak selamanya apa yang sekarang kau miliki, akan terus jadi milikmu. Jangan lepaskan, selagi takdir belum melepaskan kalian.
PENANTIAN TAK
BERUJUNG
“Terkadang, apa yang kau impikan, tak terjadi
sesuai dengan apa yang kau impikan”
“Alana, sampai kapan sih
kamu nunggu dia? Udah lah Lan, moveon!! Lupain dia mulai sekarang, jangan jatuh
cinta ke dia lagi, okeeyy!!” ucap seorang perempuan.
“Alvena, dengerin ya,
aku itu masih sayang sama dia, jadi kalau kamu suruh aku buat moveon, itu
percuma Alven sayang. Lagian kalau aku jawab aku bakal lupain dia juga
ujung-ujung nya aku bakal balik lagi buat jatuh hati ke dia” jawab wanita yang
bernama Alana.
“Iiihh kamu mah bikin
gemezz deh Lana. Mau kamu itu apa siihh sebenernya? Kamu selalu cemburu ketika
dia deket sama wanita lain, kan? But, hello… Dia bukan siapa-siapanya kamu
Alana. Kalian itu Cuma temen, okaayy!! Lupain Lan!!” jawab wanita satunya yang
bernama Alvena.
“Sudah ya Alven. Aku
baik-baik aja, aku masih kuat buat nunggu dia. Tenang aja Ven, kalau aku udah
lelah buat nunggu, aku pasti mulai
berjalan” Alana
“Hmmm, baiklah, apa
katamulah Lana. Yaudah yookk, jalan, keburu siang, ntar makin item dah kalo
selalu keluar di siang bolong macam begini” Alvena beranjak dari sofa dan
berjalan menuju teman yang telah mereka pilih untuk menghabiskan weekend minggu
ini, yaitu di sebuah taman tengah kota.
“Mengapa kau tak dapat melihat kehadiranku yang
berada dekat denganmu? Apakah aku tak terlihat hingga kau tak mendekatiku?”
“Nahh, udah sampe nih Lan. Gimana, keren kan
tempatnya?” ujar Alven sambil mengedipkan sebelah mata.
“Hmm, not bad lah Ven.
Coba aja ya aku ke tempat ini bareng dia, jalan bareng, bercanda bareng, saling
bertukar cerita, saling bertukar pengalaman. Pasti seru deh, iya kan Ven?”
jawab Alana sambil memandang kea rah Alven.
“Udahlah Lana, gausah
mikirin dia dulu hari ini. Tujuanku ngajak kamu ke sini itu buat seneng-seneng,
bukan buat nginget dia yang berujung tangisan, okeeyy!! Please, hari ini, di
taman ini, kita seneng-seneng, jangan ada dia yang bakal ngehancurin
kebahagiaanmu untuk kali ini, ya Lana” ucap Alven sambil memeluk pundak Alana.
“Siapp Alven sayang! Apa
yang akan kita lakuin pertama kali niihh? Kita main-main aja Ven, tuuhh di sana
ada ayunan. Ke sana yoookkk Ven!!” jawab Lana sambil menarik Alven kencang
hingga membuat Alven kehilangan keseimbangannya, dan jatuhnya mereka membuat
mereka tertawa bersama. Ketika sudah terduduk dan masih dalam keadaan tertawa,
Alven melihat ke arah ayunan yang ditunjuk Alana yang sekarang telah terisi
orang. Ketika melihat orang tersebut lebih detail, Alven mulai tahu siapa
gerangan orang tersebut.
“Hmm,itu kannn….” Ujar
Alven tanpa sadar sambil melirik kea rah ayunan berada.
“Itu apaan Ven?” jawab
Alana dengan bingung karena tak mengerti perkataan Alven.
“Ahh, gapapa ko Lan,
udah lupain aja lahh, haha” jawab Alven setelah sadar dan berpaling menatap
Alana.
“Alven, tolong kasih tau
kalo yang aku lihat itu bukan dia. Tolong Ven, bilang ke aku kalo itu bukan
dia! Iya kan Ven, itu bukan dia kan??!!” Ujar Alana histeris
“Itu dia Lana. Itu Al,
kamu ga lagi salah lihat. Sabar ya Alana sayang. Aku bilang apa siihh Lana,
lupain dia Lana, lupain. Buang nama dia, hapus nama dia dari otak kamu! Masih
banyak yang lain, masih banyak cowo yang bakal sayang kamu tulus, masih banyak
cowo yang gaakan kasih harapan ke kamu Lana! Lupain dia!!” jawab Alven sambil
menatap dan menggenggam tangan Alana.
Namun, tanpa bisa Alven cegah, Alana sudah mulai berjalan
menuju ayunan yang akan ia gunakan dengan Alven, yang sekarang telah digunakan
oleh seseorang. Setibanya Alana diayunan tersebut, betapa terkejutnya ia karena
apa yang saat ini ada di depannya memang dia. Al, lebih tepatnya Alvin. Cowo yang
sangat ia sayang. Cowo yang tidak akan ia hapus dari hidupnya. Baginya, Alvin
ialah lelaki yang sempurna.
“Hmm… Haiii Al” ucap
Alana membuka percakapan
“Ehh, haaii Alana.
Ngapain disini? Dan, kamu ke sini sama siapa? Pasti sama si Alven ya? Ahh
kalian memang saudara yang tak terpisah, haha” Tanya dan jawab Alvin.
“Haha, iya nih Al. Aku
ke sini sama si Alven. Kamu sendiri, ke sini sama siapa Al?” Tanya Alana
“Eh iya, ini kenalin
Lan. Namanya, Amanda. Dia temenku, hmm lebih tepatnya sahabat mungkin ya, hehe”
Alvin menjawab dengan tersenyum.
“Haiii, Amanda. Aku
Alana. Salam kenal yaa” ucap Alana sambil mengangkat tangan kanannya dan
tersenyum
“Haii Alana. Salam kenal
juga yaa” jawab Amanda menjabat tangan Lana dengan ramah.
“Ohh, jadi ini toohh Al
yang namanya Amanda. Cantiikk ya Al” ucap Alana sambil menutupi perasaannya
yang sebenarnya.
“Eh, iya Lan, hehe”
jawab Alvin
“Ehmmm, yaudah kalo gitu
aku balik ya, kasian sii Alven udah nunggu disana. Byee Al, Amanda” ujar Alana
sambil berlalu meninggalkan dua sejoli tersebut.
Tanpa sepengetahuan Al dan Amanda, Alana berjalan
melewati taman dengan keadaan menangis. Hingga ia berada di depan Alven, ia
tetap menangis sambil duduk di atas rerumputan. Alven dengan setia menemani dan
menenangkan saudaranya ini. Setelah melihat keadaan Alana yang mulai tenang,
Alven memutuskan untuk mengajak Lana pulang dan menenangkan diri di rumah.
“Berharap pada sesuatu yang tak pasti itu
memang melelahkan. Namun, jika orang yang kau cintai selalu member harapan
padamu, apa yang bisa kau buat selain tersenyum bahagia”
Sesampainya di rumah, Lana langsung berlari menuju
kamarnya. Melihat hal tersebut, Alven hanya menatap kepergian Lana dan berharap
jika saudarnya tersebut akan segera membaik dan dapat kembali tertawa seperti
biasanya, walau ia tahu jika tawa tersebut hanya palsu tuk menutupi
kesedihannya dari oranglain.
Ketika malam tiba, Alven mengajak Alana untuk belajar
bersama. Dengan senang hati Lana menerima ajakan Alven. Namun ketika mereka
belajar, atau lebih tepatnya ketika Alven belajar, Alven melihat ke arah Lana
dan mendapati Lana yang tengah melamun. Dengan perlahan, ia menghampiri Lana
dan duduk disampingnya.
“Sampai kapan kamu mau
kek gini Alana?” Tanya Alven menopang dagu dengan tatapan ke arah Alana.
“Eh, Alven. Apanya yang
sampai kapan sii Ven?” jawab Lana dengan bingung.
“Iya, sampai kapan kamu
bakal nge galauin dia yang bahkan belom tentu dia nge galauin kamu. Mikirin
kamu aja dia belom tentu ngelakuin kan? Udah lah Lan, jangan mudah percaya sama
omongan lelaki. Aku cuma gamau lihat kamu kek gini terus Lana. Wake up!!” ucap
Alven sambil merangkul pundak Lana.
“Tapi Ven, kamu masih
inget kan gimana cerita aku tentang dia saat dia bilang kalo dia juga sayang
aku?” Tanya Lana dengan raut wajah sedih
*Flashback On
Bel istirahat berbunyi. Alvena mengajak Alana untuk pergi
ke kantin bersama, namun permintaannya ditolak dengan halus oleh Alana. Keluar
dari kelas, mereka berpisah jalan. Alvena berjalan menuju kantin, sedangkan
Alana berjalan menuju taman sekolah. Ia memilih duduk di tempat favorite nya,
yaitu di bawah pohon yang cukup teduh dan jauh dari keramaian agar ia dapat
focus membaca novel yang ia bawa dari rumah. Lembar demi lembar ia buka dan
kalimat demi kalimat ia cermati agar dapat masuk dalam cerita yang tengah ia
baca, hingga ia tak sadar bahwa ada sosok yang memperhatikannya sejak tadi.
“Heii Lana, gausah
serius-serius kaliikk bacanya, haha” sapa seseorang disampingnya
“Eh- Haii, haha apaan
siihh Al” jawab Alana
“Lan, boleh nanya?” ucap
Alvin. Dan entah mengapa, ketika Alvin mengucapkan kata-kata tersebut, jantung
Alana berdetak tak karuan.
“Ehmm, bo-boleh Al. Mau
tanya apaan emang?”
“Aku denger dari
temen-temen aku, katanya kamu…. Suka sama aku. Bener nggak sih Lan?” tanya
Alvin
“Harus jujur kah?”
“Iya Alana. Udah jujur aja,
gapapa kok, tenang aja, hehe”
“Hmmm, iya Al. Aku suka
sama kamu, maaf”
“Lah, kenapa kamu minta
maaf Lana kan kamu ga salah” jawab Alvin sambil tersenyum
“Aku salah Al. Aku salah
karena suka sama kamu, maaf ya Al. Kalo kamu suruh aku buat buang perasaan ini,
aku bakal coba, tenang aja. Dan emm-“
“Ngomong apaan siihh
Lan. Gini ya Alana, semua orang itu berhak untuk mencintai, berhak untuk
memiliki perasaan lebih pada orang yang ia cintai, tinggal bagaimana cara
mereka berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Perasaan itu gasalah,
Cuma mungkin, Tuhan tidak mentakdirkannya untuk bersama. So, kamu jangan merasa
bersalah Alana” Alvin tersenyum sambil mengusap puncak kepala Alana.
“Iya Al. Dan kamu.. semoga
kamu bahagia yaa sama Amanda itu. Kalau kalian emang sama-sama sayang, kamu
nyatain cinta kamu aja. Jangan sampai terlambat, biar ga nyesel, hehe” Alana
tersenyum. Senyum untuk menutupi luka yang sebenarnya.
“Aku kan uda bilang ke
kamu, kalo aku sama Amanda itu cuma sahabat, ga lebih. Dan kalau boleh jujur..
hmmm.. aku.. aku.. suka kamu Lana.” Penjelasan Alvin itu membuat Alana
menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Eh, apaan sih Al. Aku
mah tau kalo kamu itu suka sama Amanda, dan gamungkin kalo kamu itu suka sama
aku. Secara, kamu kan mos—“
“Most Wanted Guy di
sekolah? Memang banyak yang mengenal aku begitu, tapi tidak menutup kemungkinan
kalo aku suka kamu”, “Alana dengerin ya.. cinta itu tidak memandang apapun,
cinta itu tulus dari dalam hati seseorang, dan yang jelas, cinta itu timbul
karena rasa nyaman, cinta ga bisa dipaksakan. Dan gaada orang yang maksa aku
buat suka kamu. Karena rasa cintaku, rasa sayangku ke kamu itu tulus. Tulus
dari dalam hatiku Alana.” Terang Alvin sambil membawa genggaman tangan Alana ke
dadanya, yang membuat Alana berkaca-kaca.
*Flashback Off
Kembali ke dunia nyata setelah mengingat kejadian
seminggu yang lalu, membuat air mata Alana kembali turun. Ia sedih, ia
binggung, dan ntah siapa yang harus ia percaya. Ia harus percaya pada kata hati
yang mengatakan bahwa Alvin benar-benar mencintainya, atau ia harus percaya
pada pikirannya yang mengatakan bahwa Alvin dan Amanda memiliki hubungan yang
lebih dari sahabat. Mana yang harus ia percaya? Apakah ia harus mengikuti
perkataan Alven, yang menyuruhnya untuk melupakan sosok Alvin? Tapi
pertanyaannya adalah.. Apakah ia bisa begitu saja melupakan sosok yang telah
menjadi bagian dari hatinya, menjadi sosok yang selalu ia rindukan, dan menjadi
sosok yang selalu ia banggakan di depan teman dan saudaranya ini. Apakah ia
sanggup?
Jika ia harus bertanya pada Alven, Alven pasti akan
menyuruhnya untuk melupakan sosok Alvin. Dan Alven pasti akan berkata, ‘Udahlah lupain aja Alvin. Ngapain sih kamu
masih peduliin dia, masih galauin dia, kamu mah kayak orang gaada kerjaan aja.
Buat apa kamu sayang sama seseorang yang belom tentu orang itu sayang juga ke
kamu’. Dan itu malah membuatnya semakin bingung untuk memilih. Memilih
diantara dua pilihan. Memilih untuk tetap bertahan dengan segala resiko yang
ada, atau memilih untuk melepas dan mencari penggantinya walau itu tak mudah.
“Gausah nangis lagi Lan.
Percuma kamu buang-buang air mata buat nangisin cowo kayak dia, ga guna tau ga!
Mending nih ya, sekarang kamu tenangin dirimu, kamu tanya dirimu, masih pantas
apa enggak Alvin menjadi pilihan hatimu setelah sekian lama kamu nunggu dia.”
Nasihat Alven.
“Hmm, aku udah mikir,
dan aku udah ambil keputusan untuk ini Ven. Aku milih buat….”
“Melepasmu memang tak mudah. Namun jika memang
itu yang terbaik untuk kita, maka akanku lakukan. Walau aku rasa bahwa aku
butuh waktu yang lama untuk melupakanmu. Sosok yang selalu hadir dalam
hidupku.”
Pagi ini Alana sedang duduk dibangku taman pinggir kota.
Ia memilih tempat yang biasanya ia kunjungi dengan sosok yang sedang ia tunggu.
Mereka janjian di taman jam 3 sore, dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4
sore. Itu berarti sosok yang ia tunggu telah terlambat selama satu jam.
“Apakah dia lupa kalau aku ngajak ketemuan di
taman ini? Atau dia lagi terjebak macetnya Ibu kota. Atau apakah dia sedang
jalan dengan Amanda, sehingga ia lupa dengan janjinya?” Alana sedang berperang dengan batinnya.
Memikirkan hal apa saja yang menjadi penyebab keterlambatan kedatangan sosok
itu.
Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu datang juga.
Sosok yang mengenakan kaos polos berwarna biru dan dibalut dengan jaket kulit
berwarna hitam, membuat sosok itu terlihat semakin tampan. Tanpa berpikir lama
lagi, Alana mengatakan tujuannya mengundang untuk datang ke taman ini. Tujuan
yang ia bicarakan semalam dengan Alven. Lalu kemana sosok Alven?
“Alven kemana Lan,
tumben sendiri.” Tanya sosok itu yang tentu kalian dapat menebaknya. Yaapp,
sosok itu adalah Alvin.
“Tadi sih pamit mau ke
bookstore dekat sini. Ntar juga dia kesini kok, hehe” jawab Alana yang mulai
merasa gugup.
“Btw, lo ngapain ngajak
gue kesini? Ada yang mau lo omongin kah? Gue juga gabisa lama-lama nih Lan, gue
ada janji.” tanya Alvin langsung.
“Iya gaakan lama kok Al.
Aku cuma mau bilang kalau aku mau coba buat moveon dari kamu, aku mau coba buat
lupain kamu. Lebih baik kita temen atau sahabatan aja kalii ya Al. Aku juga
ngerasa kalau kita itu ga cocok. Maaf kalau aku udah ganggu hidup kamu, maaf
kalau menurutmu aku adalah orang yang menyebalkan, aku adalah orang yang
mengganggu hubunganmu dengan Amanda. Sekarang kita jalan masing-masing ya Al.
Dan, terimakasih buat semuanya. Terimakasih karena kamu udah mau mampir di
kehidupan aku, udah mau jadi orang yang special, dan orang yang bisa ngehibur
aku kalau aku lagi sedih. Thank’s banget Al.” Alana mengungkap semua yang ingin
ia ungkap ke Alvin. Dan inilah keputusannya. Ia memutuskan untuk melupakan
sosok Alvin. Walau berat, ia akan mencobanya.
“Iyaa, gapapa Alana.
Seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karena udah bikin nyaman sama aku, udah
bikin kamu sayang sama aku, udah buat air mata kamu jatuh cuma karena aku. Dan
yang jelas, maaf kalau waktu itu aku bilang aku sayang kamu. Tapi memang itu
kenyataannya Lan. Aku memang suka, cinta, dan sayang sama kamu, tapi aku belom
siap. Aku belom siap untuk jadi pacar kamu. Aku mau kita sebatas teman dekat
dulu, kalau memang aku merasa kamu yang terbaik buat aku, aku janji aku bakal
nyatain perasaan aku. Aku engga bermaksud buat php-in kamu, buat nyakitin kamu,
buat kamu kecewa. Tapi emang beneran kalau aku belom siap buat pacaran. Aku
pengen pacaran untuk selamanya, buat untuk yang sementara.” Jelas Alvin, “dan
maafin aku Lan kalau aku akhir-akhir ini berubah. Aku berubah bukan karena aku
ga sayang sama kamu. Tapi aku berubah karena aku gamau liat kamu yang semakin
sayang sama aku, sedangkan aku masih belom bisa kasih kepastian ke kamu. Aku
minta maaf Lan.” Alvin menjelaskan alasan yang sebenarnya tentang perubahan
sikapnya akhir-akhir ini.
“Kita temen. Eh,
sahabat. Hehe” Alana tersenyum dan dibalas senyum oleh Alvin.
***** Selesai*****
Jika memang kau sayang dengannya, jangan pernah berhenti
berjuang. Teruslah berjuang hingga kau merasa lelah. Jika kau telah lelah untuk
memperjuangkannya, yang harus kau lakukan adalah melepaskan secara perlahan.
Dan jika memang kalian berjodoh, suatu saat nanti, takdir akan mempersatukan
cinta kalian. Percayalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar