Translate

Minggu, 31 Januari 2016

Cerpen Cinta - Penantian Tak Berujung


          Bersabarlah untuk menunggu sesuatu yang kau inginkan. Jangan pernah menyerah selagi kau masih bisa memperjuangkan. Tunggulah waktu yang kan datang bersama takdir, karena semua telah dipersiapkan. Ikuti alur kehidupan, mau bagaimana akhirnya, setidaknya kau sudah berusaha sekuat yang kau bisa. Ingat! Tuhan tidak tidur. Tuhan tau mana yang baik dan mana yang buruk untukmu. Jangan pernah menyerah untuk mempertahankan apa yang kau inginkan, karena tidak selamanya apa yang sekarang kau miliki, akan terus jadi milikmu. Jangan lepaskan, selagi takdir belum melepaskan kalian.

 




PENANTIAN TAK BERUJUNG

            Terkadang, apa yang kau impikan, tak terjadi sesuai dengan apa yang kau impikan”
“Alana, sampai kapan sih kamu nunggu dia? Udah lah Lan, moveon!! Lupain dia mulai sekarang, jangan jatuh cinta ke dia lagi, okeeyy!!” ucap seorang perempuan.
“Alvena, dengerin ya, aku itu masih sayang sama dia, jadi kalau kamu suruh aku buat moveon, itu percuma Alven sayang. Lagian kalau aku jawab aku bakal lupain dia juga ujung-ujung nya aku bakal balik lagi buat jatuh hati ke dia” jawab wanita yang bernama Alana.
“Iiihh kamu mah bikin gemezz deh Lana. Mau kamu itu apa siihh sebenernya? Kamu selalu cemburu ketika dia deket sama wanita lain, kan? But, hello… Dia bukan siapa-siapanya kamu Alana. Kalian itu Cuma temen, okaayy!! Lupain Lan!!” jawab wanita satunya yang bernama Alvena.
“Sudah ya Alven. Aku baik-baik aja, aku masih kuat buat nunggu dia. Tenang aja Ven, kalau aku udah lelah buat nunggu,  aku pasti mulai berjalan” Alana
“Hmmm, baiklah, apa katamulah Lana. Yaudah yookk, jalan, keburu siang, ntar makin item dah kalo selalu keluar di siang bolong macam begini” Alvena beranjak dari sofa dan berjalan menuju teman yang telah mereka pilih untuk menghabiskan weekend minggu ini, yaitu di sebuah taman tengah kota.

            “Mengapa kau tak dapat melihat kehadiranku yang berada dekat denganmu? Apakah aku tak terlihat hingga kau tak mendekatiku?”
 “Nahh, udah sampe nih Lan. Gimana, keren kan tempatnya?” ujar Alven sambil mengedipkan sebelah mata.
“Hmm, not bad lah Ven. Coba aja ya aku ke tempat ini bareng dia, jalan bareng, bercanda bareng, saling bertukar cerita, saling bertukar pengalaman. Pasti seru deh, iya kan Ven?” jawab Alana sambil memandang kea rah Alven.
“Udahlah Lana, gausah mikirin dia dulu hari ini. Tujuanku ngajak kamu ke sini itu buat seneng-seneng, bukan buat nginget dia yang berujung tangisan, okeeyy!! Please, hari ini, di taman ini, kita seneng-seneng, jangan ada dia yang bakal ngehancurin kebahagiaanmu untuk kali ini, ya Lana” ucap Alven sambil memeluk pundak Alana.
“Siapp Alven sayang! Apa yang akan kita lakuin pertama kali niihh? Kita main-main aja Ven, tuuhh di sana ada ayunan. Ke sana yoookkk Ven!!” jawab Lana sambil menarik Alven kencang hingga membuat Alven kehilangan keseimbangannya, dan jatuhnya mereka membuat mereka tertawa bersama. Ketika sudah terduduk dan masih dalam keadaan tertawa, Alven melihat ke arah ayunan yang ditunjuk Alana yang sekarang telah terisi orang. Ketika melihat orang tersebut lebih detail, Alven mulai tahu siapa gerangan orang tersebut.
“Hmm,itu kannn….” Ujar Alven tanpa sadar sambil melirik kea rah ayunan berada.
“Itu apaan Ven?” jawab Alana dengan bingung karena tak mengerti perkataan Alven.
“Ahh, gapapa ko Lan, udah lupain aja lahh, haha” jawab Alven setelah sadar dan berpaling menatap Alana.
“Alven, tolong kasih tau kalo yang aku lihat itu bukan dia. Tolong Ven, bilang ke aku kalo itu bukan dia! Iya kan Ven, itu bukan dia kan??!!” Ujar Alana histeris
“Itu dia Lana. Itu Al, kamu ga lagi salah lihat. Sabar ya Alana sayang. Aku bilang apa siihh Lana, lupain dia Lana, lupain. Buang nama dia, hapus nama dia dari otak kamu! Masih banyak yang lain, masih banyak cowo yang bakal sayang kamu tulus, masih banyak cowo yang gaakan kasih harapan ke kamu Lana! Lupain dia!!” jawab Alven sambil menatap dan menggenggam tangan Alana.
            Namun, tanpa bisa Alven cegah, Alana sudah mulai berjalan menuju ayunan yang akan ia gunakan dengan Alven, yang sekarang telah digunakan oleh seseorang. Setibanya Alana diayunan tersebut, betapa terkejutnya ia karena apa yang saat ini ada di depannya memang dia. Al, lebih tepatnya Alvin. Cowo yang sangat ia sayang. Cowo yang tidak akan ia hapus dari hidupnya. Baginya, Alvin ialah lelaki yang sempurna.
“Hmm… Haiii Al” ucap Alana membuka percakapan
“Ehh, haaii Alana. Ngapain disini? Dan, kamu ke sini sama siapa? Pasti sama si Alven ya? Ahh kalian memang saudara yang tak terpisah, haha” Tanya dan jawab Alvin.
“Haha, iya nih Al. Aku ke sini sama si Alven. Kamu sendiri, ke sini sama siapa Al?” Tanya Alana
“Eh iya, ini kenalin Lan. Namanya, Amanda. Dia temenku, hmm lebih tepatnya sahabat mungkin ya, hehe” Alvin menjawab dengan tersenyum.
“Haiii, Amanda. Aku Alana. Salam kenal yaa” ucap Alana sambil mengangkat tangan kanannya dan tersenyum
“Haii Alana. Salam kenal juga yaa” jawab Amanda menjabat tangan Lana dengan ramah.
“Ohh, jadi ini toohh Al yang namanya Amanda. Cantiikk ya Al” ucap Alana sambil menutupi perasaannya yang sebenarnya.
“Eh, iya Lan, hehe” jawab Alvin
“Ehmmm, yaudah kalo gitu aku balik ya, kasian sii Alven udah nunggu disana. Byee Al, Amanda” ujar Alana sambil berlalu meninggalkan dua sejoli tersebut.
            Tanpa sepengetahuan Al dan Amanda, Alana berjalan melewati taman dengan keadaan menangis. Hingga ia berada di depan Alven, ia tetap menangis sambil duduk di atas rerumputan. Alven dengan setia menemani dan menenangkan saudaranya ini. Setelah melihat keadaan Alana yang mulai tenang, Alven memutuskan untuk mengajak Lana pulang dan menenangkan diri di rumah.

            “Berharap pada sesuatu yang tak pasti itu memang melelahkan. Namun, jika orang yang kau cintai selalu member harapan padamu, apa yang bisa kau buat selain tersenyum bahagia”
            Sesampainya di rumah, Lana langsung berlari menuju kamarnya. Melihat hal tersebut, Alven hanya menatap kepergian Lana dan berharap jika saudarnya tersebut akan segera membaik dan dapat kembali tertawa seperti biasanya, walau ia tahu jika tawa tersebut hanya palsu tuk menutupi kesedihannya dari oranglain.
            Ketika malam tiba, Alven mengajak Alana untuk belajar bersama. Dengan senang hati Lana menerima ajakan Alven. Namun ketika mereka belajar, atau lebih tepatnya ketika Alven belajar, Alven melihat ke arah Lana dan mendapati Lana yang tengah melamun. Dengan perlahan, ia menghampiri Lana dan duduk disampingnya.
“Sampai kapan kamu mau kek gini Alana?” Tanya Alven menopang dagu dengan tatapan ke arah Alana.
“Eh, Alven. Apanya yang sampai kapan sii Ven?” jawab Lana dengan bingung.
“Iya, sampai kapan kamu bakal nge galauin dia yang bahkan belom tentu dia nge galauin kamu. Mikirin kamu aja dia belom tentu ngelakuin kan? Udah lah Lan, jangan mudah percaya sama omongan lelaki. Aku cuma gamau lihat kamu kek gini terus Lana. Wake up!!” ucap Alven sambil merangkul pundak Lana.
“Tapi Ven, kamu masih inget kan gimana cerita aku tentang dia saat dia bilang kalo dia juga sayang aku?” Tanya Lana dengan raut wajah sedih
*Flashback On
            Bel istirahat berbunyi. Alvena mengajak Alana untuk pergi ke kantin bersama, namun permintaannya ditolak dengan halus oleh Alana. Keluar dari kelas, mereka berpisah jalan. Alvena berjalan menuju kantin, sedangkan Alana berjalan menuju taman sekolah. Ia memilih duduk di tempat favorite nya, yaitu di bawah pohon yang cukup teduh dan jauh dari keramaian agar ia dapat focus membaca novel yang ia bawa dari rumah. Lembar demi lembar ia buka dan kalimat demi kalimat ia cermati agar dapat masuk dalam cerita yang tengah ia baca, hingga ia tak sadar bahwa ada sosok yang memperhatikannya sejak tadi.
“Heii Lana, gausah serius-serius kaliikk bacanya, haha” sapa seseorang disampingnya
“Eh- Haii, haha apaan siihh Al” jawab Alana
“Lan, boleh nanya?” ucap Alvin. Dan entah mengapa, ketika Alvin mengucapkan kata-kata tersebut, jantung Alana berdetak tak karuan.
“Ehmm, bo-boleh Al. Mau tanya apaan emang?”
“Aku denger dari temen-temen aku, katanya kamu…. Suka sama aku. Bener nggak sih Lan?” tanya Alvin
“Harus jujur kah?”
“Iya Alana. Udah jujur aja, gapapa kok, tenang aja, hehe”
“Hmmm, iya Al. Aku suka sama kamu, maaf”
“Lah, kenapa kamu minta maaf Lana kan kamu ga salah” jawab Alvin sambil tersenyum
“Aku salah Al. Aku salah karena suka sama kamu, maaf ya Al. Kalo kamu suruh aku buat buang perasaan ini, aku bakal coba, tenang aja. Dan emm-“
“Ngomong apaan siihh Lan. Gini ya Alana, semua orang itu berhak untuk mencintai, berhak untuk memiliki perasaan lebih pada orang yang ia cintai, tinggal bagaimana cara mereka berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Perasaan itu gasalah, Cuma mungkin, Tuhan tidak mentakdirkannya untuk bersama. So, kamu jangan merasa bersalah Alana” Alvin tersenyum sambil mengusap puncak kepala Alana.
“Iya Al. Dan kamu.. semoga kamu bahagia yaa sama Amanda itu. Kalau kalian emang sama-sama sayang, kamu nyatain cinta kamu aja. Jangan sampai terlambat, biar ga nyesel, hehe” Alana tersenyum. Senyum untuk menutupi luka yang sebenarnya.
“Aku kan uda bilang ke kamu, kalo aku sama Amanda itu cuma sahabat, ga lebih. Dan kalau boleh jujur.. hmmm.. aku.. aku.. suka kamu Lana.” Penjelasan Alvin itu membuat Alana menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Eh, apaan sih Al. Aku mah tau kalo kamu itu suka sama Amanda, dan gamungkin kalo kamu itu suka sama aku. Secara, kamu kan mos—“
“Most Wanted Guy di sekolah? Memang banyak yang mengenal aku begitu, tapi tidak menutup kemungkinan kalo aku suka kamu”, “Alana dengerin ya.. cinta itu tidak memandang apapun, cinta itu tulus dari dalam hati seseorang, dan yang jelas, cinta itu timbul karena rasa nyaman, cinta ga bisa dipaksakan. Dan gaada orang yang maksa aku buat suka kamu. Karena rasa cintaku, rasa sayangku ke kamu itu tulus. Tulus dari dalam hatiku Alana.” Terang Alvin sambil membawa genggaman tangan Alana ke dadanya, yang membuat Alana berkaca-kaca.
*Flashback Off
            Kembali ke dunia nyata setelah mengingat kejadian seminggu yang lalu, membuat air mata Alana kembali turun. Ia sedih, ia binggung, dan ntah siapa yang harus ia percaya. Ia harus percaya pada kata hati yang mengatakan bahwa Alvin benar-benar mencintainya, atau ia harus percaya pada pikirannya yang mengatakan bahwa Alvin dan Amanda memiliki hubungan yang lebih dari sahabat. Mana yang harus ia percaya? Apakah ia harus mengikuti perkataan Alven, yang menyuruhnya untuk melupakan sosok Alvin? Tapi pertanyaannya adalah.. Apakah ia bisa begitu saja melupakan sosok yang telah menjadi bagian dari hatinya, menjadi sosok yang selalu ia rindukan, dan menjadi sosok yang selalu ia banggakan di depan teman dan saudaranya ini. Apakah ia sanggup?
            Jika ia harus bertanya pada Alven, Alven pasti akan menyuruhnya untuk melupakan sosok Alvin. Dan Alven pasti akan berkata, ‘Udahlah lupain aja Alvin. Ngapain sih kamu masih peduliin dia, masih galauin dia, kamu mah kayak orang gaada kerjaan aja. Buat apa kamu sayang sama seseorang yang belom tentu orang itu sayang juga ke kamu’. Dan itu malah membuatnya semakin bingung untuk memilih. Memilih diantara dua pilihan. Memilih untuk tetap bertahan dengan segala resiko yang ada, atau memilih untuk melepas dan mencari penggantinya walau itu tak mudah.
“Gausah nangis lagi Lan. Percuma kamu buang-buang air mata buat nangisin cowo kayak dia, ga guna tau ga! Mending nih ya, sekarang kamu tenangin dirimu, kamu tanya dirimu, masih pantas apa enggak Alvin menjadi pilihan hatimu setelah sekian lama kamu nunggu dia.” Nasihat Alven.
“Hmm, aku udah mikir, dan aku udah ambil keputusan untuk ini Ven. Aku milih buat….”

            “Melepasmu memang tak mudah. Namun jika memang itu yang terbaik untuk kita, maka akanku lakukan. Walau aku rasa bahwa aku butuh waktu yang lama untuk melupakanmu. Sosok yang selalu hadir dalam hidupku.”
               
            Pagi ini Alana sedang duduk dibangku taman pinggir kota. Ia memilih tempat yang biasanya ia kunjungi dengan sosok yang sedang ia tunggu. Mereka janjian di taman jam 3 sore, dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Itu berarti sosok yang ia tunggu telah terlambat selama satu jam.
“Apakah dia lupa kalau aku ngajak ketemuan di taman ini? Atau dia lagi terjebak macetnya Ibu kota. Atau apakah dia sedang jalan dengan Amanda, sehingga ia lupa dengan janjinya?” Alana sedang berperang dengan batinnya. Memikirkan hal apa saja yang menjadi penyebab keterlambatan kedatangan sosok itu.
            Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu datang juga. Sosok yang mengenakan kaos polos berwarna biru dan dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam, membuat sosok itu terlihat semakin tampan. Tanpa berpikir lama lagi, Alana mengatakan tujuannya mengundang untuk datang ke taman ini. Tujuan yang ia bicarakan semalam dengan Alven. Lalu kemana sosok Alven?
“Alven kemana Lan, tumben sendiri.” Tanya sosok itu yang tentu kalian dapat menebaknya. Yaapp, sosok itu adalah Alvin.
“Tadi sih pamit mau ke bookstore dekat sini. Ntar juga dia kesini kok, hehe” jawab Alana yang mulai merasa gugup.
“Btw, lo ngapain ngajak gue kesini? Ada yang mau lo omongin kah? Gue juga gabisa lama-lama nih Lan, gue ada janji.” tanya Alvin langsung.
“Iya gaakan lama kok Al. Aku cuma mau bilang kalau aku mau coba buat moveon dari kamu, aku mau coba buat lupain kamu. Lebih baik kita temen atau sahabatan aja kalii ya Al. Aku juga ngerasa kalau kita itu ga cocok. Maaf kalau aku udah ganggu hidup kamu, maaf kalau menurutmu aku adalah orang yang menyebalkan, aku adalah orang yang mengganggu hubunganmu dengan Amanda. Sekarang kita jalan masing-masing ya Al. Dan, terimakasih buat semuanya. Terimakasih karena kamu udah mau mampir di kehidupan aku, udah mau jadi orang yang special, dan orang yang bisa ngehibur aku kalau aku lagi sedih. Thank’s banget Al.” Alana mengungkap semua yang ingin ia ungkap ke Alvin. Dan inilah keputusannya. Ia memutuskan untuk melupakan sosok Alvin. Walau berat, ia akan mencobanya.
“Iyaa, gapapa Alana. Seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karena udah bikin nyaman sama aku, udah bikin kamu sayang sama aku, udah buat air mata kamu jatuh cuma karena aku. Dan yang jelas, maaf kalau waktu itu aku bilang aku sayang kamu. Tapi memang itu kenyataannya Lan. Aku memang suka, cinta, dan sayang sama kamu, tapi aku belom siap. Aku belom siap untuk jadi pacar kamu. Aku mau kita sebatas teman dekat dulu, kalau memang aku merasa kamu yang terbaik buat aku, aku janji aku bakal nyatain perasaan aku. Aku engga bermaksud buat php-in kamu, buat nyakitin kamu, buat kamu kecewa. Tapi emang beneran kalau aku belom siap buat pacaran. Aku pengen pacaran untuk selamanya, buat untuk yang sementara.” Jelas Alvin, “dan maafin aku Lan kalau aku akhir-akhir ini berubah. Aku berubah bukan karena aku ga sayang sama kamu. Tapi aku berubah karena aku gamau liat kamu yang semakin sayang sama aku, sedangkan aku masih belom bisa kasih kepastian ke kamu. Aku minta maaf Lan.” Alvin menjelaskan alasan yang sebenarnya tentang perubahan sikapnya akhir-akhir ini.
“Kita temen. Eh, sahabat. Hehe” Alana tersenyum dan dibalas senyum oleh Alvin.
***** Selesai*****
            Jika memang kau sayang dengannya, jangan pernah berhenti berjuang. Teruslah berjuang hingga kau merasa lelah. Jika kau telah lelah untuk memperjuangkannya, yang harus kau lakukan adalah melepaskan secara perlahan. Dan jika memang kalian berjodoh, suatu saat nanti, takdir akan mempersatukan cinta kalian. Percayalah.

Tidak ada komentar: