Translate

Kamis, 10 September 2015

Cerpen Persahabatan

This is My real story with My best Friend






Inilah kita

            Persahabatan itu dapat muncul kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sahabat sejati adalah seseorang yang akan selalu ada untukmu bagaimanapun kondisimu saat itu, mau senang ataupun sedih, dia akan selalu berada di sampingmu, tuk menyemangatimu.
            Haii, perkenalkan namaku Rachma Devita. Aku murid kelas X-5 SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Saat ini aku masih belom kenal banyak anak di kelas ini, yang aku kenal di kelas ini hanya teman sebangkuku, yang kebetulan adalah teman dari SD dan SMP yang sama denganku. Sebenarnya sih kalau mau kenal dengan anak sekelas gampang aja, tinggal nanya namanya siapa terus tukeran PIN bbm. Nah! Tapi sayangnya aku bukan orang yang seperti itu. Aku itu tipikal cewe yang susah buat bergaul, pemalu, dan terkadang penutup sih, hehehe.

*** *** *** *** ***
            Hari demi hari telah berubah menjadi bulan, dan bulan demi bulan telah ku lewatkan bersama teman-teman X-MIA5. Perlu kalian tau, awalnya memang aku mengira bahwa anak kelas ini itu enggak asyik, kaku, anak-anaknya pendiem, dan apalah itu, aku lupa. Eh ternyata, mereka itu anaknya asyik-asyik, anaknya pada rame, enggak pendiem sesuai perkiraanku, serulah pokoknya kelas ini. Dan jangan berfikir bahwa aku masih belom kenal anak kelas ini. Kalian salah! Aku sudah mengenal anak kelas ini, hahaha. Kalian pasti bertanya bagaimana bisa aku mengenal mereka kan? Aku bisa mengetahui nama mereka itu saat guru mengabsen, atau saat ada anak yang manggil anak lain, hihihi.
            Resiko anak IPA nih, belajarnya ngitung-ngitung mulu, jauh banget sama cita-citaku yang pengen jadi pengacara, tapi gapapalah jalani aja. Dan sekarang pelajaran matematika, beuuhh bosen abis sumpah. Sesuai kebiasaanku ajalah, kalau bosen aku langsung coret-coret. Bukan sekedar coret yang ga penting sih, aku nulis kata-kata gitu. Nulis itu hobby, juga keinginanku yang ingin jadi penulis. Kebetulan gurunya lagi keluar aku asyikin nulis, disaat aku keasyikan nulis ada cewe yang dateng dan berdiri di depanku, jadilah kita ngobrol.
“Heeii, lagi ngapain?” tanya perempuan itu yang kalau ga salah namanya Fanisa.
“Heeii, ga lagi ngapa-ngapain, cuma coret-coret aja ko.” jawabku dan  memasukkan kertas ke dalam loker
“Bohong banget deh, tadi aku sempet lihat kamu nulis sesuatu. Aku sempet baca dikit tadi.” Jawabnya sambil duduk di sebelahku yang kebetulan lagi kosong
“Ha? Enggak ko. Iya tadi emang nulis, tapi bukan apa-apa ko.” Aku menjawab dengan tersenyum, senyum yang ku paksakan sih sebenarnya
“Bohong pasti. Kelihatan dari matamu, kalau kamu lagi bohong. Oke, aku bakal nebak apa yang kamu tulis.” Jawabnya
“Oke, silahkan ditebak.” Dan setelah aku jawab gitu, aku langsung deg-deg an. Please, aneh banget sumpah. Masa gini aja pake acara deg-deg an.
“Tadi aku sempat ngelihat yang kamu tulis. Jadi, yang kamu tulis itu..” deg deg deg deg. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. “kamu nulis I want to die kan?” deg. Saat Fanisa mengatakan itu, nafasku tercekat, pikiranku kosong, dan aku tak tau apa yang harusku katakan sekarang. Hening seketika seakan waktu memberiakanku ruang tuk berfikir sejenak.
“Hmmm.. Iya aku nulis itu. Tapi please, jangan bilang siapapun kalau aku nulis dan berfikiran seperti itu. Kamu orang pertama yang tau aku nulis ini, jadi tolong jangan disebarin ya” jawabku dengan wajah yang ku buat seperti memohon
“Iya, santai aja. Tapi kenapa kamu nulis, bahkan kamu berfikir seperti itu? Tenang, kalau kamu butuh seseorang untuk kamu bagi cerita, aku siap ko buat jadi orang itu. Aku bakal jadi orang yang selalu ada buat kamu, buat dengerin semua cerita kamu. So, cerita ke aku. Oke!” jawab dan tanya Fanisa sambil menghadap ke arahku
“Makasih Fan. Okeyy aku bakal cerita ke kamu. Aku yakin kalau kamu ga akan sebarin ceritaku ini” kataku sambil tersenyum, dan mulai berbagi cerita dengannya.
            Sedang asyiknya aku bercerita, guru matematikapun datang dan pelajaran dimulai. Fanisa meninggalkanku tuk kembali kebangkunya. Aku baru tau bahwa aku dan Fanisa memiliki cerita hidup yang sama. Dan meskipun aku baru mengenalnya, aku sudah merasa bahwa dia anak yang baik, yang akan selalu bersedia untuk berbagi cerita bersama. Kini dialah yang terbaik yang ku punya.
*** *** *** *** ***
            Tak terasa posisi matahari telah digantikan bulan. Malam telah datang dalam keadaan sunyi. Sama seperti malam-malam sebelumnya, malam ini suasana masih tetap sama, masih tidak ada yang istimewa. Berbalut cahaya bulan dan bintang di atas sana, dan ditemani alunan musik yang menggema di dalam kamar, aku mempersiapkan pelajaran untuk besok, dan mengerjakan tugas yang diberikan. Rasa bosan mulai melanda. Ku hentikan sejenak aktivitasku, dan mulai menjelajahi sosial media, masih dengan bertabur alunan musik dari Taylor Swift.
PING!!!
            Notifikasi bbm. Segeraku hentikan menjelajah twitter, dan berpaling pada bbm yang mulai menggiurkan. Setelahku cek, ternyata bbm dari Fanisa. Mulailah aku chat dengannya sambil mengerjakan tugas, dan terkadang sharing tentang soal yang tidak kami ketahui. Terkadang hal konyol pula yang menjadi topik malam ini, hingga membuatku tak kuasa tuk menahan tawa. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 23:00 , Fanisa pamit tuk tidur, dan waktunya aku pergi ke alam mimpi.
            Keesokan harinya kami mendapat tugas bahasa jawa secara kelompok, dan aku kebingungan aku harus berkelompok dengan siapa. Awalnya aku berfikir tuk satu kelompok dengan Fanisa, tetapi dia sudah memiliki kelompok. Alhasil aku pasrah dan menunggu kelompok yang tersisah, ternyata aku satu kelompok dengan teman sebangkuku. Sungguh membosankan. Aku memang terlahir di pulau jawa, tapi entah mengapa, aku tidak bisa untuk berbahasa kepada orang yang lebih tua, pokoknya aku kurang bisa dalam pelajaran ini.
            Saat istirahat tiba, Fanisa memperkenalkanku kepada teman kelompok bahasa jawa. Namanya Diana yang satu bangku dengan Fanisa, Ratih dan Widya yang satu bangku, Cindy dan Diajeng yang juga satu bangku. Kita mulai berbicara mengenai apapun yang enak untuk dibahas, dan terkadang kami juga bercanda bersama. Sungguh menyenangkan. Hingga bel yang takku harapkan pun berbunyi. Kami menghentikan obrolan, dan kembali ke tempat duduk masing-masing

*** *** *** *** ***
            Detik telah berganti menit. Menit telah berganti jam. Jam yang selalu berputar telah berganti hari. Hari demi hari telah berputar menjadi bulan. Dan hari ini aku, widya, ratih, diana, dan diajeng akan mengerjakan tugas di rumahnya fanisa. Sebelum berangkat ke rumah Caca (Fanisa) janjian di rumah widya untuk berangkat bersama, kecuali Diana.
“Wooii, ayo berangkat sekarang. Ratih nunggu di dekat SMAN 15, sambil bawa kue titipan Diana.” Widya menghampiri aku dan diajeng yang lagi ngobrol
“Nahlo! Lah terus kamu berangkate sama siapa wid?” tanyaku
“Aku dianter pacare Ratih, ituloh mas Dany, dia nunggu di masjid. Yookk berangkat” jawab widya dan mulai berjalan menuju masjid.
“Berarti ini kita ke dekete SMAN 15 wid?” tanyaku yang duduk dimotor diajeng
“Iyee, dia nungguin di sana. Terus abis itu kita mampir buat cari lilin dulu, habis itu langsung berangkat ke rumah caca” jawab widya dengan tetap berjalan, “noh, mas dany udah nungguin, langsung aja ya daripada entar kita kena omel” lanjut widya sambil menghampiri mas dany (pacar ratih)
            Setelah menempuh perjalanan dengan sengatan sinar matahari, kita sampai di rumah caca dan langsung disambut dengan pemilik rumah yang asyik nonton anime.
“Akhirnya datang. Ayoo masuk, motornya taruh depan, tapi helm bawa masuk aja, oke” ucap caca, diajeng, ratih, widya, sudah mulai masuk ke dalam, “eh iya nik, aku punya info buat kamu” lanjut caca
“Info? Info apaan ca?” jawabku dengan nada bingung
“Kemaren aku mau cerita ke kamu lewat bbm, tapi gajadi. Jadi gini, kemaren aku itu ngomongin kamu sama tomy, terus aku nanya dia suka apa enggak sama kamu, kamu tau dia jawab apa?” jelas dan tanya caca
“Kamu ngomongin apa wooii? Terus terus, dia jawab apa?” tanyaku
“Dianya jawab kepoo gitu sambil senyum-senyum. Dia kalo aku tanyain kek gitu, dianya itu kek gimana ya, kek salah tingkah gitu. Mana pake senyum senyum pula” jelas caca dengan nada menggoda
“What?! Serius caca” jawabku. Kurasakan pipiku mulai memanas. Jangan blushing.
“Iya niikk.. ciee seneng ciee..” godanya, “yaudah yookk masuk, kasian anak-anak ntar lumuten, hahaha” lanjutnya dan mulai melangkah masuk ke rumah.
            Saat berada di dalam rumah Caca, kami saling mengobrol, tertawa, curhat, dan lain sebagainya, hingga Diana datang dan kami membantu Diana untuk membuat video. Widya membantu Diana untuk merapikan jilbabnya, sedangkan aku, caca, diajeng, dan ratih sibuk selfie di depan. Saat asyik berselfie ria, diana dan widya ikut bergabung dengan membawa kue nya.
“Ayoo rekk bantuin aku bikin video” diana menghampiri kami
“Ayoo!! Mana lilinnya Ca?” diajeng ikut nimbrung
“Ada di dalem” jawab caca yang masih asyik selfie
“Ambil dulu kalii Ca, jangan selfie muluu. Penuh tuh memoryku” kataku pada caca
“Iye iye bentar” caca dengan sedikit berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil lilin dan korek api, “neehh” lanjutnya sambil memberikan kedua benda tersebut. Setelah benda berpindah tangan, widya mulai menyalakan kuenya
“Ayoooe cepetaann, keburu leleh loh lilinnya” ujar diajeng dengan panik
“Iya, ayooo makk” kata widya yang sudah siap dengan kamera digitalnya
“Bentar. Ayoo ayooo” jawab diana yang sudah siap untuk divideo. Dan berlanjutlah acara video dengan penuh kata cut dan kita yang selalu tertawa untuk hal bodoh sekalipun.
            Setelah acara video dan selfie selesai, kita kembali berada di dalam rumah Caca untuk ngobrol, makan, dan minum. Aku yang sedang asyik memangku camilan yang disuguhkan, digoda oleh anak-anak yang sirik.
“Nik.. Nonik.. Makan mulu kerjaanmu” Widya
“Nik, jangan dihabisin sendiriann” Ratih
“Nik, bagi dikit kalii” Diajeng yang langsung menyahut camilan yang ku pangku, alhasil aku cemberut, sedangkan yang laen malah ketawa
“Iihh balikinn Ajeng” kataku yang masih dengan ekspresi cemberut
“Niiihh” diajeng memberikan camilan padaku dan dengan senang hati ku terima dan kupangku agar tidak dapat diminta anak laen. Namun saat Ibu nya Fanisa datang, aku langsung menaruh camilan tersebut ke lantai dan mulai memasang wajah tak berdosa
“HAHAHAHA!!! Nik Nonikk.. giliran Ibue Fanisa muncul aja baru dibalikin” tawa diajeng dan mulai disahuti tawa dari yang lain. Setelah situasi aman, camilan tersebut kembali kepangkuanku, dan anak-anak hanya menggelengkan kepala.
            Disaat waktu mulai sore, dan matahari mulai terbenam tuk berganti posisi dengan bulan, disitulah aku, diajeng, widya, ratih, dan diana berpamitan untuk pulang ke rumah kami masing-masing.

*** *** *** *** ***
            Kemarin memanglah melelahkan. Namun rasa bahagia lebih besar daripada rasa lelah. Aku senang bisa tertawa, dan bahagia bersama sahabatku. Hanya satu yang membuatku sedih, karena Cindy, salah satu kami tidak ikut karena kami berbeda kelompok dengannya. Alhasil hari ini dia marah.
“Eh, kalian pada lihat pm nya Cindy yang kemaren ga?” tanyaku ke mereka
“Iya aku lihat. Kek buat kita gitu, iya kan?” jawab diajeng
“Itu buat aku rekk. Lihaten yang pas kalimat, katae saudara tapi ko malah gitu, kenapa harus pilih-pilih sih?” sahut caca
“Kita kan ga pilih-pilih rekk” widya dan disetujui oleh ratih dan diana
“Iya. Lagian kan kita sekalian ngerjain tugas prakarya, iya kan?” sahut diana
“Iya sih, tapi aku ga enak. Di band loh biasanya dia ngejailin aku, ngajak aku bercanda, tapi sekarang dia nya malah diemin aku” caca mulai sedih dan murung
“Udahlah ca, biarin dia tenang dulu. Ntar kalo dia udah tenang, kita baru minta maaf ke dia dan jelasin ke dia, terus kita mulai ketawa bareng lagi ca” jawabku dan mendapat jawaban ‘Iya’ dari yang lain
“Iya deh” jawaban caca terdengar pasrah
            Sudah 4 hari ga ngobrol, ketawa, dan kumpul bareng cindy itu rasanya ada yang kurang. Biasanya dia yang paling rame, paling heboh, tapi sekarang dia marah dan masih tetap menjauh.
            Hari ini saat pelajaran seni budaya aku duduk bareng caca di bangku paling depan dekat kursi. Karena hari ini pelajarannya adalah membuat pola batik di kain, sedangkan aku dan caca sudah selesai, jadi kami memutuskan untuk mengobrol dan membahas soal Cindy yang masih bersikap dingin.
“He gimana ini nik, aku gabisa kek gini terus sama dia. Kamu tau kan kalo aku sama dia itu satu band, galucu banget kalo kita terus marahan” caca berujar dan menyandarkan punggungnya ke tembok
“Gimana kalo sekarang kita minta maaf ke dia aja ca?” aku menoleh pada caca yang juga sedang melihat kearahku
“Tapi aku maluu nikk, aku gabisa” caca menunduk
“Pasti bisa ca. Come on, kalo ada niat baik, nanti hasilnya juga akan baik ko ca” jawabku sambil menepuk pundaknya
“Aku juga pengen minta maaf nikk, tapi aku malu. Kalo nanti dia ngacangin kita gimana?” tanya caca
“Enggak bakal ca. Yaudah ayoo” aku berdiri dan mulai menarik tangan caca untuk ikut berdiri. Ketika kami sudah berdiri, yang ku lakukan adalah...
“Pak, izin ke belakang ya” ujarku dengan menahan tawa, caca yang berada disampingku hanya diam dan melotot ke arahku
“Lah nik, katanya minta maaf, lah ko malah keluar?” caca berbicara ketika kami dalam perjalanan ke toilet
“Hahaha, maafkan ca. Tapi kamu inget kan kalo setiap pelajaran seni budaya itu jadwalnya ke kamar mandi buat nangis” aku mulai tersenyum jahil padanya
“Hahaha, sialan noniikk. Tak kirain tadi kamu beneran mau ngajak aku ke minta maaf ke Cindy loh nik” caca memukul lenganku dengan sedikit kencang yang membuatku meringis untuk sementara
“Awalnya aku juga mau ngajak kamu minta maaf ke cindy, tapi aku mau jailin kamu dengan liat ekspresi di wajahmu, aseekkk” aku menyenggol lengannya dan dijawab dengan suara tawa khas dirinya, “yaudah balik yuk” ajakku pada caca dan mulai melangkah keluar kamar mandi
“Lah sialan ini anak, tadi ngajak ke kamar mandi, sekarang malah ngajak balik” kudengar caca ngomel dan kujawab dengan tawa
            Keesokan harinya, caca menghampiriku yang tengah terdiam dibangkuku seorang diri. Terlihat wajah berseri bahagia disana, tak seperti sebelumnya.
“Kenapa ca, seneng banget keknya” aku memulai pembicaraan
“Hehehe, iya. Kamu tau ga niikk..” caca
“Aku gatau” ujarku polos dan dibalas dengan cubitan yang cukup membuatku meringis
“Ihh dengerin dulu niikk. Jadi gini, semalem cindy itu bbm aku, dia bilang maaf gitu ke aku” caca menatap ke langit ruang kelas, seperti sedang mengingat sesuatu, “jadi sekarang aku sama dia udah baikan, seneng bangett aku nik” masih dalam posisi yang sama, namun kali ini aku dapat melihat sorot bahagia di matanya
“Wiihh, beneran ca? Seneng dong? Ciiee caca” ujarku serius
“Iya niikk” caca menatapku dengan tatapan berseri-seri
“Wehhh, ngapain niihh? Seneng banget keknya” cindy datang dengan diikuti diajeng di belakangnya
“Ini loh cin, si caca seneng banget soalnya kamu udah maafin dia” aku mengatakan yang sebenarnya pada cindy, sedangkan caca hanya menunduk malu
“Loh loh, Fanisa sama cindy sudah baikan toohh” tiba-tiba diana datang dan menyahut perkataanku
“Iya, mereka udah baikan loh” jawabku antusias
“Ciee baikan. Udah jangan marahan lagi. Kita bukannya pilih-pilih cin, tapi kita satu kelompok lagi sekalian ngerjain tugas bebarengan” jawab widya menoleh ke arah cindy dan caca secara bergantian
“Iya cin. Kalo kita bisa kelompokan bertujuh, ya ini kelompok kita. Ga akan ada yang bisa gantiin posisi salah satu dari kita, oke” diajeng berujar dengan semangat, menatap kami satu persatu
“Iya, karena Inilah Kita. Kita awal bertujuh, sampai akhirpun kita juga harus tetap bertujuh. Sekalipun nantinya kita akan pisah, persabahatan kita takkan pernah memudar kan?” jawabku dan menatp wajah mereka satu persatu. Inilah sahabatku.
“Iya, selalu jadi yang terbaik dari yang terbaik rekk” ujar diana yang memeluk pundak fanisa, fanisa memeluk pundakku, aku memeluk pundak diajeng, diajeng memeluk pundak cindy, cindy memeluk pundak widya, widya memeluk pundak ratih, dan raith memeluk pundak diana. Kita berpelukan bersama, karena kita satu.
*** *** *** *** ***
            Kita masih tetap berusaha untuk menjaga persahabatan ini agar tidak runtuh. Tak ada yang dapat goyahkan persahabatan kita, walau ditiup badai sekalipun. Inilah Kita, Rachma, Fanisa, Cindy, Diajeng, Widya, Ratih, dan Diana. Kita sahabat, dan selamanya akan terus menjadi sahabat. Teman yang ada saat suka dan duka, bukan teman yang hanya ada saat suka, namun menghilang saat duka tiba.
            Dan cintapun takkan bisa menggoyahkan persahabatan ini. Walau seringku rasa aku bersikap egois karena aku berfikir sahabatku mencintai orang yangku suka, namun kini mereka membuatku sadar. Ya, sekarang aku telah sadar. Aku hampir kehilangan salah satu sahabatku hanya karena aku mencintai lelaki tersebut. Namun Tuhan masih baik. Ia masih memberiku kesempatan tuk berbahagia dengan mereka. Ku kan selalu berusaha tuk tidak egois, dan tetap menjadi sahabat yang terbaik.
            Persahabatan kita akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kita akan bersama tanpa ada keegoisan masing-masing. Kita akan selalu tetap bertujuh, karena...
INILAH KITA!!!
*** *** *** *** ***
The End

Tidak ada komentar: