Inilah
kita
Persahabatan
itu dapat muncul kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sahabat sejati
adalah seseorang yang akan selalu ada untukmu bagaimanapun kondisimu saat itu,
mau senang ataupun sedih, dia akan selalu berada di sampingmu, tuk
menyemangatimu.
Haii, perkenalkan namaku Rachma
Devita. Aku murid kelas X-5 SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Saat ini aku
masih belom kenal banyak anak di kelas ini, yang aku kenal di kelas ini hanya
teman sebangkuku, yang kebetulan adalah teman dari SD dan SMP yang sama
denganku. Sebenarnya sih kalau mau kenal dengan anak sekelas gampang aja,
tinggal nanya namanya siapa terus tukeran PIN bbm. Nah! Tapi sayangnya aku
bukan orang yang seperti itu. Aku itu tipikal cewe yang susah buat bergaul, pemalu,
dan terkadang penutup sih, hehehe.
*** *** *** *** ***
Hari demi hari telah berubah menjadi
bulan, dan bulan demi bulan telah ku lewatkan bersama teman-teman X-MIA5. Perlu
kalian tau, awalnya memang aku mengira bahwa anak kelas ini itu enggak asyik,
kaku, anak-anaknya pendiem, dan apalah itu, aku lupa. Eh ternyata, mereka itu anaknya
asyik-asyik, anaknya pada rame, enggak pendiem sesuai perkiraanku, serulah
pokoknya kelas ini. Dan jangan berfikir bahwa aku masih belom kenal anak kelas
ini. Kalian salah! Aku sudah mengenal anak kelas ini, hahaha. Kalian pasti
bertanya bagaimana bisa aku mengenal mereka kan? Aku bisa mengetahui nama
mereka itu saat guru mengabsen, atau saat ada anak yang manggil anak lain,
hihihi.
Resiko anak IPA nih, belajarnya
ngitung-ngitung mulu, jauh banget sama cita-citaku yang pengen jadi pengacara,
tapi gapapalah jalani aja. Dan sekarang pelajaran matematika, beuuhh bosen abis
sumpah. Sesuai kebiasaanku ajalah, kalau bosen aku langsung coret-coret. Bukan
sekedar coret yang ga penting sih, aku nulis kata-kata gitu. Nulis itu hobby, juga keinginanku yang ingin jadi
penulis. Kebetulan gurunya lagi keluar aku
asyikin nulis, disaat aku keasyikan nulis ada cewe yang dateng dan berdiri di
depanku, jadilah kita ngobrol.
“Heeii, lagi
ngapain?” tanya perempuan itu yang kalau ga salah namanya Fanisa.
“Heeii, ga lagi
ngapa-ngapain, cuma coret-coret aja ko.” jawabku dan memasukkan kertas ke dalam loker
“Bohong banget
deh, tadi aku sempet lihat kamu nulis sesuatu. Aku sempet baca dikit tadi.”
Jawabnya sambil duduk di sebelahku yang kebetulan lagi kosong
“Ha? Enggak ko.
Iya tadi emang nulis, tapi bukan apa-apa ko.” Aku menjawab dengan tersenyum,
senyum yang ku paksakan sih sebenarnya
“Bohong pasti.
Kelihatan dari matamu, kalau kamu lagi bohong. Oke, aku bakal nebak apa yang
kamu tulis.” Jawabnya
“Oke, silahkan
ditebak.” Dan setelah aku jawab gitu, aku langsung deg-deg an. Please, aneh
banget sumpah. Masa gini aja pake acara deg-deg an.
“Tadi aku sempat
ngelihat yang kamu tulis. Jadi, yang kamu tulis itu..” deg deg deg deg. Entah
kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. “kamu nulis I want to die kan?” deg. Saat Fanisa
mengatakan itu, nafasku tercekat, pikiranku kosong, dan aku tak tau apa yang
harusku katakan sekarang. Hening seketika seakan waktu memberiakanku ruang tuk
berfikir sejenak.
“Hmmm.. Iya aku
nulis itu. Tapi please, jangan bilang siapapun kalau aku nulis dan berfikiran
seperti itu. Kamu orang pertama yang tau aku nulis ini, jadi tolong jangan
disebarin ya” jawabku dengan wajah yang
ku buat seperti memohon
“Iya, santai
aja. Tapi kenapa kamu nulis, bahkan kamu berfikir seperti itu? Tenang, kalau
kamu butuh seseorang untuk kamu bagi cerita, aku siap ko buat jadi orang itu.
Aku bakal jadi orang yang selalu ada buat kamu, buat dengerin semua cerita
kamu. So, cerita ke aku. Oke!”
jawab dan tanya Fanisa sambil menghadap ke arahku
“Makasih Fan.
Okeyy aku bakal cerita ke kamu. Aku yakin kalau kamu ga akan sebarin ceritaku
ini” kataku sambil tersenyum, dan mulai berbagi cerita dengannya.
Sedang asyiknya aku bercerita, guru
matematikapun datang dan pelajaran dimulai. Fanisa meninggalkanku tuk kembali
kebangkunya. Aku baru tau bahwa aku dan Fanisa memiliki cerita hidup yang sama.
Dan meskipun aku baru mengenalnya, aku sudah merasa bahwa dia anak yang baik,
yang akan selalu bersedia untuk berbagi cerita bersama. Kini dialah yang
terbaik yang ku punya.
*** *** *** *** ***
Tak terasa posisi matahari telah
digantikan bulan. Malam telah datang dalam keadaan sunyi. Sama seperti
malam-malam sebelumnya, malam ini suasana masih tetap sama, masih tidak ada
yang istimewa. Berbalut cahaya bulan dan bintang di atas sana, dan ditemani
alunan musik yang menggema di dalam kamar, aku mempersiapkan pelajaran untuk
besok, dan mengerjakan tugas yang diberikan. Rasa bosan mulai melanda. Ku
hentikan sejenak aktivitasku, dan mulai menjelajahi sosial media, masih dengan
bertabur alunan musik dari Taylor Swift.
PING!!!
Notifikasi bbm. Segeraku hentikan
menjelajah twitter, dan berpaling pada bbm yang mulai menggiurkan. Setelahku
cek, ternyata bbm dari Fanisa. Mulailah aku chat dengannya sambil mengerjakan
tugas, dan terkadang sharing tentang soal yang tidak kami ketahui. Terkadang
hal konyol pula yang menjadi topik malam ini, hingga membuatku tak kuasa tuk
menahan tawa. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 23:00 , Fanisa pamit tuk
tidur, dan waktunya aku pergi ke alam mimpi.
Keesokan harinya kami mendapat tugas
bahasa jawa secara kelompok, dan aku kebingungan aku harus berkelompok dengan
siapa. Awalnya aku berfikir tuk satu kelompok dengan Fanisa, tetapi dia sudah
memiliki kelompok. Alhasil aku pasrah dan menunggu kelompok yang tersisah,
ternyata aku satu kelompok dengan teman sebangkuku. Sungguh membosankan. Aku
memang terlahir di pulau jawa, tapi entah mengapa, aku tidak bisa untuk
berbahasa kepada orang yang lebih tua, pokoknya aku kurang bisa dalam pelajaran
ini.
Saat istirahat tiba, Fanisa
memperkenalkanku kepada teman kelompok bahasa jawa. Namanya Diana yang satu
bangku dengan Fanisa, Ratih dan Widya yang satu bangku, Cindy dan Diajeng yang
juga satu bangku. Kita mulai berbicara mengenai apapun yang enak untuk dibahas,
dan terkadang kami juga bercanda bersama. Sungguh menyenangkan. Hingga bel yang
takku harapkan pun berbunyi. Kami menghentikan obrolan, dan kembali ke tempat
duduk masing-masing
***
*** *** *** ***
Detik telah berganti menit. Menit
telah berganti jam. Jam yang selalu berputar telah berganti hari. Hari demi
hari telah berputar menjadi bulan. Dan hari ini aku, widya, ratih, diana, dan
diajeng akan mengerjakan tugas di rumahnya fanisa. Sebelum berangkat ke rumah
Caca (Fanisa) janjian di rumah widya untuk berangkat bersama, kecuali Diana.
“Wooii, ayo
berangkat sekarang. Ratih nunggu di dekat SMAN 15, sambil bawa kue titipan
Diana.” Widya menghampiri aku dan diajeng yang lagi ngobrol
“Nahlo! Lah
terus kamu berangkate sama siapa wid?” tanyaku
“Aku dianter
pacare Ratih, ituloh mas Dany, dia nunggu di masjid. Yookk berangkat” jawab
widya dan mulai berjalan menuju masjid.
“Berarti ini
kita ke dekete SMAN 15 wid?” tanyaku yang duduk dimotor diajeng
“Iyee, dia nungguin
di sana. Terus abis itu kita mampir buat cari lilin dulu, habis itu langsung
berangkat ke rumah caca” jawab widya dengan tetap berjalan, “noh, mas dany udah
nungguin, langsung aja ya daripada entar kita kena omel” lanjut widya sambil
menghampiri mas dany (pacar ratih)
Setelah menempuh perjalanan dengan
sengatan sinar matahari, kita sampai di rumah caca dan langsung disambut dengan
pemilik rumah yang asyik nonton anime.
“Akhirnya
datang. Ayoo masuk, motornya taruh depan, tapi helm bawa masuk aja, oke” ucap
caca, diajeng, ratih, widya, sudah mulai masuk ke dalam, “eh iya nik, aku punya
info buat kamu” lanjut caca
“Info? Info
apaan ca?” jawabku dengan nada bingung
“Kemaren aku mau
cerita ke kamu lewat bbm, tapi gajadi. Jadi gini, kemaren aku itu ngomongin
kamu sama tomy, terus aku nanya dia suka apa enggak sama kamu, kamu tau dia
jawab apa?” jelas dan tanya caca
“Kamu ngomongin
apa wooii? Terus terus, dia jawab apa?” tanyaku
“Dianya jawab
kepoo gitu sambil senyum-senyum. Dia kalo aku tanyain kek gitu, dianya itu kek
gimana ya, kek salah tingkah gitu. Mana pake senyum senyum pula” jelas caca
dengan nada menggoda
“What?! Serius
caca” jawabku. Kurasakan pipiku mulai memanas. Jangan blushing.
“Iya niikk..
ciee seneng ciee..” godanya, “yaudah yookk masuk, kasian anak-anak ntar lumuten,
hahaha” lanjutnya dan mulai melangkah masuk ke rumah.
Saat berada di dalam rumah Caca,
kami saling mengobrol, tertawa, curhat, dan lain sebagainya, hingga Diana
datang dan kami membantu Diana untuk membuat video. Widya membantu Diana untuk
merapikan jilbabnya, sedangkan aku, caca, diajeng, dan ratih sibuk selfie di
depan. Saat asyik berselfie ria, diana dan widya ikut bergabung dengan membawa
kue nya.
“Ayoo rekk
bantuin aku bikin video” diana menghampiri kami
“Ayoo!! Mana
lilinnya Ca?” diajeng ikut nimbrung
“Ada di dalem”
jawab caca yang masih asyik selfie
“Ambil dulu
kalii Ca, jangan selfie muluu. Penuh tuh memoryku” kataku pada caca
“Iye iye bentar”
caca dengan sedikit berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil lilin dan korek
api, “neehh” lanjutnya sambil memberikan kedua benda tersebut. Setelah benda
berpindah tangan, widya mulai menyalakan kuenya
“Ayoooe
cepetaann, keburu leleh loh lilinnya” ujar diajeng dengan panik
“Iya, ayooo
makk” kata widya yang sudah siap dengan kamera digitalnya
“Bentar. Ayoo
ayooo” jawab diana yang sudah siap untuk divideo. Dan berlanjutlah acara video
dengan penuh kata cut dan kita yang
selalu tertawa untuk hal bodoh sekalipun.
Setelah acara video dan selfie
selesai, kita kembali berada di dalam rumah Caca untuk ngobrol, makan, dan
minum. Aku yang sedang asyik memangku camilan yang disuguhkan, digoda oleh
anak-anak yang sirik.
“Nik.. Nonik..
Makan mulu kerjaanmu” Widya
“Nik, jangan
dihabisin sendiriann” Ratih
“Nik, bagi dikit
kalii” Diajeng yang langsung menyahut camilan yang ku pangku, alhasil aku
cemberut, sedangkan yang laen malah ketawa
“Iihh balikinn
Ajeng” kataku yang masih dengan ekspresi cemberut
“Niiihh” diajeng
memberikan camilan padaku dan dengan senang hati ku terima dan kupangku agar tidak
dapat diminta anak laen. Namun saat Ibu nya Fanisa datang, aku langsung menaruh
camilan tersebut ke lantai dan mulai memasang wajah tak berdosa
“HAHAHAHA!!! Nik
Nonikk.. giliran Ibue Fanisa muncul aja baru dibalikin” tawa diajeng dan mulai
disahuti tawa dari yang lain. Setelah situasi aman, camilan tersebut kembali
kepangkuanku, dan anak-anak hanya menggelengkan kepala.
Disaat waktu mulai sore, dan
matahari mulai terbenam tuk berganti posisi dengan bulan, disitulah aku,
diajeng, widya, ratih, dan diana berpamitan untuk pulang ke rumah kami
masing-masing.
*** *** *** *** ***
Kemarin memanglah melelahkan. Namun
rasa bahagia lebih besar daripada rasa lelah. Aku senang bisa tertawa, dan
bahagia bersama sahabatku. Hanya satu yang membuatku sedih, karena Cindy, salah
satu kami tidak ikut karena kami berbeda kelompok dengannya. Alhasil hari ini
dia marah.
“Eh, kalian pada
lihat pm nya Cindy yang kemaren ga?” tanyaku ke mereka
“Iya aku lihat.
Kek buat kita gitu, iya kan?” jawab diajeng
“Itu buat aku
rekk. Lihaten yang pas kalimat, katae
saudara tapi ko malah gitu, kenapa harus pilih-pilih sih?” sahut caca
“Kita kan ga
pilih-pilih rekk” widya dan disetujui oleh ratih dan diana
“Iya. Lagian kan
kita sekalian ngerjain tugas prakarya, iya kan?” sahut diana
“Iya sih, tapi
aku ga enak. Di band loh biasanya dia ngejailin aku, ngajak aku bercanda, tapi
sekarang dia nya malah diemin aku” caca mulai sedih dan murung
“Udahlah ca,
biarin dia tenang dulu. Ntar kalo dia udah tenang, kita baru minta maaf ke dia
dan jelasin ke dia, terus kita mulai ketawa bareng lagi ca” jawabku dan
mendapat jawaban ‘Iya’ dari yang lain
“Iya deh”
jawaban caca terdengar pasrah
Sudah 4 hari ga ngobrol, ketawa, dan
kumpul bareng cindy itu rasanya ada yang kurang. Biasanya dia yang paling rame,
paling heboh, tapi sekarang dia marah dan masih tetap menjauh.
Hari ini saat pelajaran seni budaya
aku duduk bareng caca di bangku paling depan dekat kursi. Karena hari ini
pelajarannya adalah membuat pola batik di kain, sedangkan aku dan caca sudah
selesai, jadi kami memutuskan untuk mengobrol dan membahas soal Cindy yang
masih bersikap dingin.
“He gimana ini
nik, aku gabisa kek gini terus sama dia. Kamu tau kan kalo aku sama dia itu
satu band, galucu banget kalo kita terus marahan” caca berujar dan menyandarkan
punggungnya ke tembok
“Gimana kalo
sekarang kita minta maaf ke dia aja ca?” aku menoleh pada caca yang juga sedang
melihat kearahku
“Tapi aku maluu
nikk, aku gabisa” caca menunduk
“Pasti bisa ca.
Come on, kalo ada niat baik, nanti hasilnya juga akan baik ko ca” jawabku
sambil menepuk pundaknya
“Aku juga pengen
minta maaf nikk, tapi aku malu. Kalo nanti dia ngacangin kita gimana?” tanya
caca
“Enggak bakal
ca. Yaudah ayoo” aku berdiri dan mulai menarik tangan caca untuk ikut berdiri.
Ketika kami sudah berdiri, yang ku lakukan adalah...
“Pak, izin ke
belakang ya” ujarku dengan menahan tawa, caca yang berada disampingku hanya
diam dan melotot ke arahku
“Lah nik,
katanya minta maaf, lah ko malah keluar?” caca berbicara ketika kami dalam
perjalanan ke toilet
“Hahaha, maafkan
ca. Tapi kamu inget kan kalo setiap pelajaran seni budaya itu jadwalnya ke
kamar mandi buat nangis” aku mulai tersenyum jahil padanya
“Hahaha, sialan
noniikk. Tak kirain tadi kamu beneran mau ngajak aku ke minta maaf ke Cindy loh
nik” caca memukul lenganku dengan sedikit kencang yang membuatku meringis untuk
sementara
“Awalnya aku
juga mau ngajak kamu minta maaf ke cindy, tapi aku mau jailin kamu dengan liat
ekspresi di wajahmu, aseekkk” aku menyenggol lengannya dan dijawab dengan suara
tawa khas dirinya, “yaudah balik yuk” ajakku pada caca dan mulai melangkah
keluar kamar mandi
“Lah sialan ini
anak, tadi ngajak ke kamar mandi, sekarang malah ngajak balik” kudengar caca
ngomel dan kujawab dengan tawa
Keesokan harinya, caca menghampiriku
yang tengah terdiam dibangkuku seorang diri. Terlihat wajah berseri bahagia
disana, tak seperti sebelumnya.
“Kenapa ca,
seneng banget keknya” aku memulai pembicaraan
“Hehehe, iya.
Kamu tau ga niikk..” caca
“Aku gatau”
ujarku polos dan dibalas dengan cubitan yang cukup membuatku meringis
“Ihh dengerin
dulu niikk. Jadi gini, semalem cindy itu bbm aku, dia bilang maaf gitu ke aku”
caca menatap ke langit ruang kelas, seperti sedang mengingat sesuatu, “jadi
sekarang aku sama dia udah baikan, seneng bangett aku nik” masih dalam posisi
yang sama, namun kali ini aku dapat melihat sorot bahagia di matanya
“Wiihh, beneran
ca? Seneng dong? Ciiee caca” ujarku serius
“Iya niikk” caca
menatapku dengan tatapan berseri-seri
“Wehhh, ngapain
niihh? Seneng banget keknya” cindy datang dengan diikuti diajeng di belakangnya
“Ini loh cin, si
caca seneng banget soalnya kamu udah maafin dia” aku mengatakan yang sebenarnya
pada cindy, sedangkan caca hanya menunduk malu
“Loh loh, Fanisa
sama cindy sudah baikan toohh” tiba-tiba diana datang dan menyahut perkataanku
“Iya, mereka
udah baikan loh” jawabku antusias
“Ciee baikan.
Udah jangan marahan lagi. Kita bukannya pilih-pilih cin, tapi kita satu
kelompok lagi sekalian ngerjain tugas bebarengan” jawab widya menoleh ke arah
cindy dan caca secara bergantian
“Iya cin. Kalo
kita bisa kelompokan bertujuh, ya ini kelompok kita. Ga akan ada yang bisa
gantiin posisi salah satu dari kita, oke” diajeng berujar dengan semangat,
menatap kami satu persatu
“Iya, karena
Inilah Kita. Kita awal bertujuh, sampai akhirpun kita juga harus tetap
bertujuh. Sekalipun nantinya kita akan pisah, persabahatan kita takkan pernah
memudar kan?” jawabku dan menatp wajah mereka satu persatu. Inilah sahabatku.
“Iya, selalu
jadi yang terbaik dari yang terbaik rekk” ujar diana yang memeluk pundak
fanisa, fanisa memeluk pundakku, aku memeluk pundak diajeng, diajeng memeluk
pundak cindy, cindy memeluk pundak widya, widya memeluk pundak ratih, dan raith
memeluk pundak diana. Kita berpelukan bersama, karena kita satu.
*** *** *** *** ***
Kita masih tetap berusaha untuk
menjaga persahabatan ini agar tidak runtuh. Tak ada yang dapat goyahkan
persahabatan kita, walau ditiup badai sekalipun. Inilah Kita, Rachma, Fanisa,
Cindy, Diajeng, Widya, Ratih, dan Diana. Kita sahabat, dan selamanya akan terus
menjadi sahabat. Teman yang ada saat suka dan duka, bukan teman yang hanya ada saat
suka, namun menghilang saat duka tiba.
Dan cintapun takkan bisa
menggoyahkan persahabatan ini. Walau seringku rasa aku bersikap egois karena
aku berfikir sahabatku mencintai orang yangku suka, namun kini mereka membuatku
sadar. Ya, sekarang aku telah sadar. Aku hampir kehilangan salah satu sahabatku
hanya karena aku mencintai lelaki tersebut. Namun Tuhan masih baik. Ia masih
memberiku kesempatan tuk berbahagia dengan mereka. Ku kan selalu berusaha tuk
tidak egois, dan tetap menjadi sahabat yang terbaik.
Persahabatan kita akan tumbuh
seiring berjalannya waktu. Kita akan bersama tanpa ada keegoisan masing-masing.
Kita akan selalu tetap bertujuh, karena...
INILAH KITA!!!
*** *** *** *** ***
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar