Translate

Minggu, 22 Mei 2016

Cerpen Cinta

          Ini adalah cerita nyata. Cerita ini hanya berupa narasi, tanpa adanya dialog. Semoga kalian menyukainya. Terimakasih. And, happy reading :)








Kisah Cinta di SMA

            Haii, namaku Alvera Atmadjaya. Aku akan berbagi kisah cintaku dibangku SMA, siapa tau kisah cintaku ini memiliki kesamaan dengan kisah cinta kalian. Dan kalaupun berbeda, siapa tau kita bisa saling menguatkan, haha. Oke, aku mulai ya. Semoga kalian bisa memahaminya, hehe.
***** ***** ******
            Namanya Deva. Teman satu kelasku ketika kita duduk dibangku kelas 10. Sosok teman yang baik, yang selalu bantu aku tentang pelajaran, teman yang enak untuk diajak chat, dan pada akhirnya… aku nyaman dengan dia. Aku masih ingat ketika aku mulai memahami bahwa perasaan itu adalah ‘Cinta’, ya aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya, di Bulan Oktober, tetapi aku lupa tanggalnya.
            Aku mencintainya, dan aku sering menulis segala hal tentangnya, apa yang aku rasakan, dan saat itu juga, aku menuangkan semuanya dalam tulisan. Aku sering menulis sendiri di kelas. Menggoreskan tinta ke lembar demi lembar kertas yang masih kosong, untuk mencorehkan apa yang aku rasakan. Dan aku… aku sering menangis, hanya karena aku melihatnya dekat dengan wanita lain. Bodoh?  Jelas! Mungkin banyak yang berkasak-kusuk mengenai diriku yang terlalu cemburu. Namun aku tak tau, karena aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. 
            Dan, aku pernah bertengkar dengan sahabatku hanya karena dia dekat, dan sering chat dengan doi (Deva). Heeii, tapi coba pikir dan bayangkan, ketika kalian melihat sahabat kalian terlihat bahagia ketika dia bersama orang yang kalian sayang, dan mereka sering tertawa bersama, apa saat itu kalian tidak berfikir jika mereka memiliki perasaan yang sama? Saat itu aku ga rela kalau sahabatku memiliki perasaan ke doi. Coba pikir, ketika kalian sudah bercerita kepada sahabat kalian, bahwa kalian mencintainya, kemudian salah satu sahabat kalian memendam perasaan kepadanya (juga), bagaimana perasaan kalian? Apa kalian bisa mengikhlaskan mereka untuk bersama? Is it hard for you?
            Di suatu hari, entah tepatnya kapan aku lupa, dia (Deva) pernah bilang ke aku kalau dia suka aku. Coba bayangkan, siapa yang ga seneng kalau orang yang dicintai juga mencintai balik? Pasti gaada. Aku senang? Tentu. Kita sering chat, say ‘pagi’ ‘see’ ‘night’ pake emot love. Siapa yang ga senang coba kalo digituin. tapi… tapi… hal yang mengejutkan dan tak terduga-duga itu ketika H- beberapa hari sebelum terima raport kenaikan kelas. Dia bilang, ‘ada yang mau aku omongin’, dan dia bilang, ‘maaf ya, kita ga bisa lebih dari teman, aku belom mau pacaran. Kita temanan aja dulu, nanti kalau aku uda siap, kita baru lebih.’ Woeyy, siapa yang ga sakit, ga nyesek, dan ga langsung nangis kalo dibilang kek gitu. Tapi, yaudahlah yaa.
***** ***** *****
Kelas 11
        Kita mulai lagi ya, di kelas yang baru, dengan suasana yang baru. Dan yang jelas, aku sudah tidak satu kelas lagi dengan Deva, huhu. Oke, mulai yaa.
            Dibangku kelas 11 ini, aku sudah tidak satu kelas lagi dengan dia. Kita beda kelas, dan beda jam masuk. Memulai semuanya dari awal. Menghadapi hidup yang baru, dan melupakan kenangan pahit di tahun lalu.
            Awal masuk kelas 11, doi (Deva) nge chat aku, kita banyak chat, tapi sudah beda. Intinya itu, beda. Saking seringnya chat sama doi, aku mulai ngerasa… nyaman (lagi) kalau ngobrol sama dia. Sampe pada akhirnya, dia tanya, aku masih suka apa engga sama dia. Ya aku jujur dong ya kalau aku masih sayang sama dia. Terus dia jawab, ciee sama. Mulai saat itu, kita mulai chat-an lagi seperti semula, say ‘pagi’ ‘see’ ‘night’ pake emot love. 
            Sampe lama-lama itu aku ngerasa ada yang beda, ada yang berubah. Kalau dipikir-pikir itu, aku yang lebih sering nge chat dia duluan, aku yang jawabnya panjang, dan aku juga yang cari topic baru ketika aku tau kalau chat itu mau berhenti sampe situ. Bukan chatnya yang berubah. Tapi… dia. Dia berubah, sudah ga seperti dulu lagi. Dia juga mulai cuek, dan jarang nge chat duluan. Dan itu bikin aku mikir kalau mungkin dia udah bosan, mungkin dia sudah ada yang lain.
            Dan ga lama setelah itu, dia bilang hal yang sama seperti awal. He say, ‘ada yang mau aku omongin’, dan dia bilang, ‘maaf ya, kita ga bisa lebih dari teman, aku belom mau pacaran. Kita temanan aja dulu, nanti kalau aku uda siap, kita baru lebih.’ Intinya sama, tapi kata-katanya beda. Intinya dia mau bilang kalo kita itu ga bisa lebih dari teman. Dan entah kenapa aku terlalu bodoh untuk tetap menunggunya kembali.
            Selama itu juga, aku ga chat sama dia. Aku pernah lihat doi ke kantin sama cewe laen, yang aku tau kalau cewe itu temen sekelasnya, dan temen sekelas kita dulu (kelas 10). Cewe itu juga tau kalau aku suka Deva, bahkan cewe itu juga pernah bilang ke aku, ‘sabarr, dia loh juga suka sama kamu.’ Argghh! Why all people are FAKE?! 
            Dari kejadian itu, aku beraniin buat nge chat doi dan nanya, ‘Dev, kamu suka sama aya (cewe itu) ta?’ dan dia jawab, ‘iya’. Wow? Segitu cepatnya kah dia berpaling? Padahal aku masih sayang dia, aku masih suka dia, aku masih cinta dia, dan aku masih nunggu dia kembali. Tapi kenapa? Kenapa dia malah pilih untuk sama cewe itu? kenapa dia ga bilang kalau dia suka sama cewe itu, padahal kita udah janji untuk saling terbuka. Kenapa dia bohong? Kenapa dia ga bisa jujur? Kenapa dia ga bisa terbuka?
            Dan dari fakta itu pula, aku udah gatau harus gimana lagi. Semua sahabatku pada suruh aku buat moveon, but how? I can’t do it! Wooii, move on, dan ngelupain orang yang benar-benar kalian sayang itu ga semudah ngomong. Move on dan ngelupain kenangan yang pernah terjadi itu susah. Butuh waktu. Lama.
            Setelah itu, aku sudah tidak pernah chat dia lagi. Sampe akhirnya dia memulai pembicaraan duluan. Dia juga bilang, ‘kalau mau chat, chat aja gapapa.’ Dan itu bikin aku goyah, aku bingung harus gimana. Tapi untuk sekarang ini, aku masih sayang sama dia, aku masih suka dia, aku masih cinta dia, dan aku masih nunggu dia. Aku masih nunggu di tempat yang sama kok, aku belom mulai berjalan untuk menjauh, karena jika dia butuh, dia bisa kembali ke tempatku berpijak. Dan aku sayang dia itu tulus dari dalam hati aku. 
            Intinya, aku sayang sama dia, bukan memandang dari fisik, aku juga ga melihat baik-buruk sifatnya dia. Aku sayang dia, karena aku nyaman dengan dirinya. Dan aku tulus. I’m still waiting him… 
***** ***** *****
Ini bukan akhir, karena aku belom tau nanti akhirnya bagaimana. Yang jelas, makasih banget udah mau baca ini. Sekali lagi, terimakasih.

Quotes:
Jika kalian mencintai seseorang, cintailah dengan setulus hati, jangan mengharap imbalan. Dan jika kalian saling mencintai, jangan pernah buat salah satu dari kalian merasa tersakiti dengan perbuatan kalian.”
                   By :
Rachma Devita S. (NIK)


Tidak ada komentar: